Total Tayangan Halaman

Rabu, 21 Desember 2011

PENTINGNYA LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

PENTINGNYA LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR
Oleh :
SANGGA PAWIYAT DIGA NOVENSA
NIM: 080210204019



BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Hakekat Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan Lampiran Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kurikulum SD memuat 8 Mata Pelajaran, Muatan Lokal dan Pengembangan Diri. Pengembangan Diri bertujuan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai kondisi sekolah. Kegiatan Pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar dan pengembangan karir peserta didik.
M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11).
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
Dari pengertian tersebut, dapat dirangkum ciri-ciri pokok konseling, yaitu:
a)adanya bantuan dari seorang ahli,
b)proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,
c)bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah. Guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.

1.2 Latar Belakang
Program bimbingan dan konseling sangat perlu diterapkan di lingkungan sekolah. Adapun yang melatarbelakangi program bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
1)Latar Belakang Sosio-Kultural
Perkembangan zaman (globalisasi) menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi, industri, informasi dan sebagainya. Akibatnya ialah berbagai permasalahan yang dihadapi oleh individu, misalnya, pengangguran, syarat-syarat pekerjaan, penyesuaian diri, jenis dan kesempatan pendidikan, perencanaan dan pemilihan pendidikan, masalah hubungan sosial, masalah keluarga, keuangan, masalah pribadi, dan sebagainya. Walaupun pada umumnya masing-masing individu berhasil mengatasi dengan sempurna, sebagian lain masih perlu mendapatkan bantuan.
Tanggung jawab sekolah ialah membantu para siswa baik sebagai pribadi maupun sebagai calon anggota masyarakat, dengan mendidik dan menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya.

2)Latar Belakang Pedagogis
Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah, pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Sedangkan tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan dalam GBHN adalah: “Untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Dan pengertian dan tujuan di atas, jelas bahwa yang menjadi tujuan inti dari pendidikan adalah perkembangan kepribadian secara optimal dan setiap anak didik sebagai pribadi. Dengan demikian setiap kegiatan proses pendidikan diarahkan kepada tercapainya pribadi-pribadi yang berkembang optimal sesuai dengan potensi masing-masing.
Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh yang tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran), akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan sehingga akhirnya dapat berkembang secara optimal. Kegiatan pendidikan yang diinginkan seperti tersebut di atas, adalah kegiatan pendidikan yang ditandai dengan pengadministrasian yang baik, kurikulum beserta proses belajar mengajar yang memadai, dan layanan pribadi kepada anak didik melalui bimbingan.
Dalam hubungan inilah bimbingan mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan, yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal. Dengan demikian maka hasil pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik yang berkembang baik secara akademik, psikologis, maupun sosial.

3)Latar belakang psikologis
Dalam proses pendidikan di sekolah, siswa sebagai subjek didik, merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Siswa sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan, memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungannya. Sebagai pribadi yang unik, terdapat perbedaan individual antara siswa yang satu dengan lainnya. Di samping itu, siswa sebagai pelajar, senantiasa terjadi perubahan tingkah laku sebagai hasil proses belajar.

a)Perkembangan individu
Proses perkembangan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dan dalam maupun dan luar. Dan dalam dipengaruhi oleh pembawaan dan kematangan, dan dan luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perkembangan dapat berhasil baik jika faktor-faktor tersebut dapat saling melengkapi. Untuk mencapai perkembangan yang baik harus ada asuhan yang terarah. Asuhan dalam perkembangan dengan melalui proses belajar sering disebut pendidikan.
Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan bertanggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan individu. Bimbingan dan konseling akan merupakan bantuan individu di dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam konsepsi tentang tugas perkembangan (developmental task) dikatakan bahwa setiap periode tertentu terdapat sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Berhasil tidaknya individu dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut akan berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya dalam penyesuaian dirinya di dalam masyarakat. Melalui layanan bimbingan dan konseling siswa dibantu agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya dengan baik.
Dilihat dari proses dan fase perkembangannya, para siswa berada fase masa remaja (adolescent). Masa ini ditandai dengan berbagai perubahan menuju kearah tercapainya kematangan dalam berbagai aspek seperti biologis, intelektual, emosional, sikap, nilai, dan sebagainya. Para siswa yang berada pada masa transisi di akhir masa anak-anak dan memasuki masa remaja sebagai persiapan memasuki dunia dewasa. Dalam situasi ini siswa akan mengalami berbagai guncangan yang akan mempengaruhi seluruh pola perilakunya, dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi proses belajarnya.
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan komponen pendidikan yang dapat membantu para siswa dalam proses perkembangannya. Pemahaman terhadap masalah perkembangan dengan prinsip-prinsipnya akan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.

b)Masalah Perbedaan Individu
Keunikan dan individu mengandung anti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek jasmaniah maupun rohaniah. Individu yang satu berbeda dan individu yang lainnya. Timbulnya perbedaan individu ini dapat kita kembalikan kepada faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu meskipun dengan lingkungan sama. Dan sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu meskipun pembawaannya sama.
Di sekolah seringkali tampak masalah perbedaan individu ini, misalnya ada siswa yang sangat cepat dan ada yang lambat belajar, ada yang cerdas, dan ada yang berbakat dalam bidang tertentu, dan sebagainya. Kenyataan ini akan membawa konsekwensi bagi pelayanan pendidikan, khususnya yang menyangkut bahan pelajaran, metode mengajar, alat-alat pelajaran, penilaian, dan pelayanan lain. Di samping itu, perbedaan perbedaan ini seringkali banyak menimbulkan masalah-masalah baik bagi siswa itu sendiri maupun bagi lingkungan. Siswa akan menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri antara keunikan dirinya dengan tuntutan dalam lingkungannya. Hal ini disebabkan pelayanan pada umumnya program pendidikan memberikan pelayanan atas dasar ukuran ukuran pada umumnya atau rata-rata.
Mengingat bahwa yang menjadi tujuan pendidikan adalah perkembangan yang optimal dan setiap individu, maka masalah individu ini perlu mendapat perhatian dalam pelayanan pendidikan. Sekolah hendaknya memberikan bantuan kepada siswa dalam masalah-masalah sehubungan dengan perbedaan individu. Dengan kata lain sekolah hendak nya memberikan pelayanan kepada para siswa secara invidual sesuai dengan keunikan masing-masing. Usaha melayani siswa secara individual dapat diselenggarakan melalui program bimbingan dan konseling. Dengan demikian keunikan diri masing-masing siswa itu tidak banyak menimbulkan masalah yang menghambat mereka dalam seluruh proses pendidikan.
Beberapa segi perbedaan individual yang perlu mendapat perhatian ialah perbedaan dalam:
1.kecerdasan;
2.kecakapan;
3.hasil belajar;
4.bakat;
5.sikap;
6.kebiasaan;
7.pengetahuan;
8.kepribadian;
9.cita-cita;
10.kebutuhan;
11.minat;
12.pola-pola dan tempo perkembangan;
13.ciri-ciri jasmaniah;
14.latar belakang lingkungan.
Data tentang perbedaan-perbedaan tersebut akan besar sekali manfaatnya bagi usaha bantuan yang diberikan kepada siswa di sekolah.

c)Masalah Kebutuhan Individu
Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan ini sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kebutuhannya, maka dia akan merasa puas, dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan.
Dengan berpegang kepada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara dalam memenuhi kebutuhannya, maka kegiatan belajar pada hakikatnya merupakan perwujudan usaha pemenuhan kebutuhan tersebut. Sekolah hendaknya menyadari hal tersebut, baik dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan pada diri siswa, maupun dalam memberikan bantuan yang sebaik-baiknya dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti telah dikatakan di atas, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah-masalah bagi dirinya.
Pada umumnya secara psikologis dikenal ada dua jenis kebutuhan dalam diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Beberapa diantara kebutuhan-kebutuhan yang harus kita perhatikan ialah kebutuhan:
1.memperoleh kasih sayang;
2.memperoleh harga diri;
3.untuk memperoleh pengharapan yang sama;
4.ingin dikenal;
5.memperoleh prestasi dan posisi;
6.untuk dibutuhkan orang lain;
7.merasa bagian dari kelompok;
8.rasa aman dan perlindungan diri;
9.untuk memperoleh kemerdekaan diri.
Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan dan konseling merupakan salah satu usaha kearah itu.

d)Masalah Penyesuaian Diri dan Kelainan Tingkah Laku
Kegiatan atau tingkah laku pada hakikatnya merupakan cara pernenuhan kebutuhan. Banyak cara yang dapat ditempuh individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar, cara-cara yang disadari maupun yang tidak disadari. Yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan ini, individu harus dapat menyesuaikan antara kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungan, disebut sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baik lingkungan sekolah, rumah maupun masyarakat.
Proses penyesuaian diri ini banyak sekali menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya, hal itu disebut “adjusted” atau penyesuaian yang baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalani proses penyesuaian diri tersebut, disebut “maladjusted” atau salah suai.
Dalam hal ini sekolah hendaknya memberikan bantuan agar setiap siswa dapat menyesuaikan diri dengan baik dan terhindar dan timbulnya gejala-gejala salah suai. Sekolah hendaknya menempatkan diri sebagai suatu lingkungan yang memberikan kemudahan-kemudahan untuk tercapainya penyesuaian yang baik.
Di atas telah dikatakan bahwa jika individu gagal dalam memperoleh penyesuaian diri, maka ia akan sampai pada suatu situasi salah suai. Gejala-gejala salah suai ini akan dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau yang sering disebut sebagai bentuk kelainan tingkah laku.
Kenyataan kelainan tingkah laku ini sering tampak seperti tingkah laku agresif, rasa rendah diri, bersifat bandel, haus perhatian, mencuri dan sebagainya. Gejala-gejala semacam itu seringkali banyak menimbulkan berbagai masalah. Tentu saja hal itu tidak dapat dibiarkan terus, karena akan banyak mengganggu baik bagi individu itu sendiri maupun bagi lingkungan. Mereka yang menunjukkan gejala-gejala kelainan tingkah laku mempunyai kecenderungan untuk gagal dalam proses pendidikannya. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu usaha nyata untuk menanggulangi gejala-gejala tersebut. Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling memberikan peranan yang cukup penting.

e)Masalah Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar rnerupakan kegiatan inti. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai bantuan perkembangan dengan melalui kegiatan belajar. Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai suatu proses memperoleh perubahan tingkah laku untuk memperoleh pola pola respons yang baru yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien.
Dalam proses belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Beberapa masalah belajar, misalnya bagamana menciptakan kondisi yang baik agar perbuatan belajar berhasil, memilih metode dan alat-alat yang tepat sesuai dengan jenis dan situasi belajar, membuat rencana belajar bagi siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya. Bagi siswa sendiri, masalah-masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, belajar berkelompok, mempersiapkan ujian, memilih mata kuliah yang cocok, dan sebagainya.
Jadi jelas bahwa dalam kegiatan belajar ini banyak masalah-masalah yang timbul terutama yang dirasakan oleh si pelajar. Sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar mereka berhasil dalam belajar. Untuk itu hendaknya sekolah memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Di sinilah letak penting dan perlunya program bimbingan dan konseling untuk rnembantu agar mereka berhasil dalam belajar.
Kalau kita menyimak kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya, masih terdapat kecenderungan bahwa pendidikan belum sepenuhnya dapat membantu perkembangan kepribadian anak didik secara optimal. Secara akademis masih nampak gejala bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal. Hal ini nampak antara lain dalam gejala-gejala putus sekolah, tinggal kelas, lambat belajar, berprestasi rendah, kekurang-percayaan masyarakat terhadap basil pendidikan, dan sebagainya. Secara psikologis masih banyak adanya gejala-gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang, kurang percaya pada diri sendiri, kecemasan, putus asa, bersikap santai, kurang responsif, ketergantungan, pribadi yang tidak seimbang, dan sebagainya. Demikian juga secara sosial ada kecenderungan anak didik belum memiliki kemampuan penyesuaian sosial secara memadai.

Fakta:
•Pendidikan belum sepenuhnya dapat membantu perkembangan kepribadian anak didik secara optimal.
•Secara akademis masih nampak gejala bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal pula.
•Secara psikologis masih banyak adanya gejala-gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang, kurang percaya pada diri sendiri, kecemasan, putus asa, bersikap santai, kurang responsif, ketergantungan, pribadi yang tidak seimbang, dan sebagainya.

Selain itu, ada tiga hal pokok yang menjadi latar belakang perlunya bimbingan dilihat dan segi pendidikan.
Pertama adalah dilihat dan hakikat pendidikan sebagai suatu usaha sadar dalam mengembangkan kepribadian. Hal ini mengandung implikasi bahwa proses pendidikan menuntut adanya pendekatan yang lebih luas dari pada sekedar pengajaran. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan pribadi melalui layanan bimbingan dan konseling.
Kedua, pendidikan senantiasa berkembang secara dinamis dan karenanya selalu terjadi perubahan perubahan dan penyesuaian dalam komponen-komponennya. Menghadapi perkembangan ini para siswa sebagai subjek didik memerlukan bantuan dalam penyesuaian diri melalui layanan bimbingan.
Ketiga pada hakikatnya guru mempunyai peranan yang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi lebih luas dari itu, yaitu sebagai pendidik. Sebagai pendidik, maka guru seyogyanya dapat menggunakan pendekatan pribadi dalam mendidik para siswanya. Pendekatan pribadi ini diwujudkan melalui layanan bimbingan.

Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Berdasarkan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwa kerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 kegiatan utama, yakni:
1.Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan siswa SD.

2.Layanan Responsif
Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventif atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi.
Isi layanan responsif adalah:
1)bidang pendidikan;
2)bidang belajar;
3)bidang sosial;
4)bidang pribadi;
5)bidang karir;
6)bidang tata tertib SD;
7)bidang narkotika dan perjudian;
8)bidang perilaku sosial, dan
9)bidang kehidupan lainnya.

3.Layanan Perencanaan
Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang membantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini untuk membantu siswa, memantau pertumbuhan dan memahami perkembangan sendiri.

4.Dukungan sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingan secara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangan profesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:
1)layanan pengumpulan data,
2)layanan informasi,
3)layanan penempatan,
4)layanan konseling,
5)layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan
6)layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).


BAB 2. ISI

2.1 Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatar belakangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis.
Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.

Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
a) masalah perkembangan individu,
b) masalah perbedaan individual,
c) masalah kebutuhan individu,
d) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan
e) masalah belajar.
Sekolah dasar bertanggung jawab memberikan pengalaman-pengalaman dasar kepada anak, yaitu kemampuan dan kecakapan membaca, menulis dan berhitung; pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas, dan kepemimpinan; ketrampilan serta sikap bertanggung jawab guru sekolah dasar memegang peranan dan memikul tanggung jawab untuk memahami anak dan membantu perkembangan sosial pribadi anak.
Bimbingan itu sendiri dapat diartikan suatu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif, bukan hanya suatu kekuatan kolektif. Proses yang terpenting dalam pentingnya bimbingan adalah proses penemuan diri sendiri. Hal tersebut akan membantu anak mengadakan penyesuaian terhadap situasi baru, mengembangkan kemampuan anak untuk memahami diri sendiri dan menerapkannya dalam situasi mendatang.
Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat hanya mengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak, tetapi juga merupakan suatu pemikiran tentang perkembangan anak sebagai pribadi dengan segala kebutuhan, minat dan kemampuan yang harus berkembang.
Tuntutan untuk mengadakan identifikasi secara awal diakui kebenarannya oleh para ahli bimbingan karena:
a) kepribadian anak masih luwes, belum menemukan banyak masalah hidup, mudah terbentuk dan masih akan banyak mengalami perkembangan,
b) orang tua murid sering berhubungan dengan guru dan mudah dibentuk hubungan tersebut, orang tua juga aktif dalam pendidikan anaknya di sekolah,
c) masa depan anak masih terbuka sehingga dapat belajar mengenali diri sendiri dan dapat menghadapi suatu masalah dikemudian hari.
Bimbingan tidak hanya pada anak yang bermasalah melainkan pandangan bimbingan dewasa ini yaitu menyediakan suasana atau situasi perkembangan yang baik, sehingga setiap anak di sekolah dapat terdorong semangat belajarnya dan dapat mengembangkan pribadinya sebaik mungkin dan terhindar dari praktik-praktik yang merusak perkembangan anak itu sendiri.
Konsep psikologi belajar mengenai kesiapan belajar menunjukan bahwa hambatan pendidikan dapat timbul jika kurikulum diberikan kepada anak terlalu cepat/terlalu lambat, untuk menghadapi perubahan dan perkembangan pendidikan yang terus menerus perlu adanya penyuluhan untuk menumbahkan motivasi dan menciptakan situasi balajar dengan baik sehingga diperoleh kreatifitas dan kepemimpinan yang positif pada aktifitas melalui penyuluhan kepada orang tua dan murid.


2.2 Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar, Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:
a. Fungsi penyaluran (distributif)
Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah lanjutan/sambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan ciri-ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi ini meliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolah antara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, dan lain-lain.
b. Fungsi penyesuaian (adjustif)
Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknik bimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi ini juga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.
c. Fungsi adaptasi (adaptif)
Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu staf sekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini pembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya. Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)

2.3 Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno,1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adalah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.
b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai banyak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (guru bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas/guru yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas/guru lain yang terlibat.
j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini, sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

2.4 Peran Guru Kelas dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas (bagi sekolah tanpa guru bimbingan) dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:
a) Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
b) Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
c) Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
d) Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
e) Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
f) Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
g) Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
h) Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
i) Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.


BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatar belakangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis.
Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar, Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:
a. Fungsi penyaluran (distributif)
b. Fungsi penyesuaian (adjustif)
c. Fungsi adaptasi (adaptif)

Prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut: sikap dan tingkah laku, perbedaan tiap individu, mengarah pada suatu bantuan, orang yang dibimbing harus aktif, referal atau pelimpahan dalam bimbingan, dimulai dengan identifikasi, dilaksanakan secara fleksibel, sejalan dengan program pendidikan, dipimpin oleh guru/konselor, dan diadakan penilaian secara teratur.
Peran guru dalam kegiatan BK, yaitu sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator.

3.2 Saran
Sebagai calon guru SD yang dituntut menjadi guru yang professional, kita tidak hanya bertindak sebagai guru kelas saja. Kita harus ikut berperan sebagai guru Bimbingan Konseling bagi anak didik kita supaya masalah-masalah yang dihadapi terhadap anak didik bisa terpecahkan sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang optimal.



diga novensa

Minggu, 18 Desember 2011

Media Pembelajaran dan Macam-macamnya (Visual, Audio dan Audio Visual)

Posisi Guru sebagai Pendidik dituntut untuk selaluinovatif dan kreatif dalam berbagai hal, termasuk dalam menyampaikan mata pelajaran agar mudah dicerna para peserta didik. Salah satunya adalah menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan diminati oleh banyak siswa. Media Pembelajaran adalah Alat atau perangkat yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran, yang lebih populer disebut sebagai RPP (Rencana Pelaksannan Pembelajaran) Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang pal i ng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja diranca ng secara khusus untuk mata pelajaran tertentu. A. MEDIA VISUAL 1. Media yang tidak diproyeksikan Media reali t a adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah: 1) gambar / foto: paling umum digunakan 2) sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan. 3) diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme. 4) bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal. 5) grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan. 2. Media proyeksi 1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu: - Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu - Membuat sendiri secara manual 2. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide. B. MEDIA AUDIO 1. Radio Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif. 2. Kaset-audio Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah. C. MEDIA AUDIO-VISUAL 1. Media video Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD. 2. Media komputer Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.

Bagaimana Hubungan Strategi Pembelajaran dengan Metode dan Teknik Pembelajaran?

Di dalam Inovasi Pembelajaran, kita sebagai calon guru seyogyanya dapat membangun anak menjadi manusia kritis dan kreatif, serta pemecah masalah yaitu dengan melalui pembaharuan pendekatan strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Yang akan di bahas dalam artikel ini adalah bagaimana pembaharuan strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang bertujuan membangun anak menjadi manusia kritis. Pembaharuan strategi, metode, dan teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai terciptanya suatu perubahan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan strategi, metode, dan teknik itu sendiri. Intinya perubahan dalam pembaharuan ini diharapkan dapat menuju lebih baik dalam membangun anak didik yang kritis dan kreatif. Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehigga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya diakhir kegiatan belajar. Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Teknik pembelajaran sering kali disamakan dengan metode pembelajaran. Teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai (Garlach dan Ely, 1980). Strategi pembelajaran mengandung arti yang lebih luas dari metode dan teknik. Artinya, metode atau prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Lalu, bagaimana hubungan diantara strategi, tujuan, dan metode ??? Hubungan antara strategi, tujuan, dan metode pembelajaran digambarkan sebagai suatu kesatuan sistem yang bertitik tolak dari penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan strategi pembelajaran, dan perumusan tujuan, yang kemudian diimplementasikan ke dalam berbagai metode dan teknik yang relevan selama proses pembelajaran berlangsung. Strategi pembelajaran terdiri atas 5 komponen utama yang saling berinteraksi dengan karakter fungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran, yaitu: (a) Kegiatan pembelajaran pendahuluan, dalam kegiatan pendahuluan dapat dilakukan teknik dengan menjelaskan tujuan pembelajaran khusus, dan melakukan apersepsi yang berupa kegiatan, (b) Penyampaian informasi, (3) Partisipasi peserta didik, (4) Tes, dan (5) Kegiatan lanjutan. Pemilihan strategi pembelajaran hendaknya ditentukan berdasarkan kriteria berikut: a) Orientasi strategi pada tugas pembelajaran b) Relevan dengan isi atau materi pembelajaran c) Metode dan teknik yang digunakan difokuskan pada tujuan yang ingin dicapai d) Media pembelajaran yang digunakan dapat merangsang indra peserta didik secara simultan

MEDIA PEMBELAJARAN

Menurut Arsyad (2002), kata media berasal dari bahasa latin ‘medius’ yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’, atau ‘pengantar’. Menurut Bovee yang dikutip Ena (2001), media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Selain itu beberapa ahli mengemukakan bahwa media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman, 2004). Sedangkan Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh pengajar atau fasilitator atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi, baik simbol verbal maupun symbol non verbal atau visual. Sehingga menurut Heinich (2006) media pembelajaran adalah media-media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan pembelajaran atau mengandung maksud-maksud pembelajaran. Sedangkan menurut Sadiman (2004) mengemukakan bahwa media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan si-belajar. Hal ini bisa berupa perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat keras. Demikian pula menurut Sudjana (2007) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan si belajar dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu media yang berfungsi untuk membawakan pesan pembelajaran. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong pembelajar untuk melakukan praktik-praktik dengan benar. Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya (Ena, 2001). Kriteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersediaan fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk diubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif (Ena, 2001). Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajar tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media dimana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan materi yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar, program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Dari sisi manfaat menurut Kemp & Dayton (2005) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. b. Pengajaran bisa lebih menarik. c. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan penguatan. d. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik dan jelas. f. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu. g. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. h. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif; beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar.

Selasa, 13 Desember 2011

Truk Ngguling di Desa Tembokrejo

Tembokrejo- Truk ngguling terjadi di perbatasan antara dusun Krajan-Rejosari desa Temboksore tadi sore sekitar pukul 17.00. Truk yang sarat muatan jagung itu terperosok di sungai kecil (got) yang berada tepat di pinggir jalan, diduga truk itu terperosok akibat tidak mampunya jalan untuk menopang berat truk yang saat itu melaju dari arah utara. Jalan yang pas pada ban bagian belakang truk itu ambles hingga truk tidak bisa menahan keseimbangan, sehingga truk mengalami oleng dan terperosok ke sungai. Kemungkinan sopir tidak mengetahui bahwa jalan yang saat itu becek akibat diguyur hujan sangat rapuh.
Kejadian ini sempat mengagetkan warga sekitar. Dan sempat menjadi tontonan menarik bagi warga. Tidak ada korban jiwa dari kecelakaan itu. Supir dan dua keneknya selamat dari kecelakaan itu meski teerbilang lumayan parah. Muatan yang penuh berisikan jagung tersebut sebagian tumpah dari bak truk. Evakuasi masih berjalan hingga malam hari karena menunggu bantuan untuk mengangkat truk itu. Muatan jagung yang sebagian masih berada di bak truk, di turunkan untuk memudahkan evakuasi. diga.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Jember Hujan Es

Kabarnya Jember hujan es nih,,,,
wah sayang sekali saya gak bisa lihat, soalnya lagi kuliah pas tragedi itu terjadi (siah tragedi jare).
Tadi dapat sms dari teman-teman kuliah kalo di Jember terjadi hujan es, di Jl. Kalimantan X deras banget, juga di Jl. Jawa. Gak tau juga lokasi yang lain, soalnya cuma di situ teman teman yang banyaj ngabari.
Oia, apa yang mennyebabkan hujan es terjadi??

Ni q dapat artikel, dari googling juga sih...

Fenomena cuaca seperti hujan es bukanlah fenomena cuaca yang baru terjadi atau fenomena cuaca yang aneh, karena fenomena ini biasa terjadi di Indonesia.

Kepala Sub Bidang Informasi Metereologi, Badan Metereologi dan Geofisika (BMG), Ahmad Zakir ketika dikonfirmasi mengatakan turunnya buliran es yang menyerupai salju itu disebabkan gumpalan awan yang dekat dengan permukaan bumi. Bila gumpalan itu dekat permukaan bumi, jelasnya, akan menyebabkan gumpalan awan tersebut tidak lebur dengan baik sehingga turun ke bumi dalam keadaan masih berbentuk kondensasi (gumpalan). “Tapi peristiwa seperti ini hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu hujan berlangsung normal kembali,” katanya. Apakah kondisi ini terjadi di daerah lain? Zakir hanya mengatakan fenomena itu biasanya terjadi di daerah yang memiliki awan yang dekat dengan permukaan bumi. “Awan merupakan asal hujan. Di Jawa Barat bagian utara hal seperti ini juga sering terjadi. Beberapa daerah di Indonesia juga sering terjadi,” ucap Zakir. Lebih lanjut dikatakan Zakir, butiran es itu adalah semburan kondensasi air hujan yang menggumpal di atas permukaan bumi yang disebut awan gelap. “Biasanya seperti itu. Pertama kali keluar butir yang ada. Nah itu lima sampai 10 menit akan seperti itu. Pertama kali itu bukan hujan gerimis tapi semburan dari butir-butir hujan tapi ini tidak lama,”katanya.

Hujan Es+ Angin putting beliung berasal dari jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (CB) dekat dengan permukaan bumi, dapat juga berasal dari multi sel awan , dan pertumbuhannya secara vertical dengan luasan area horizontalnya sekitar 3 – 5 km dan kejadiannya singkat berkisar antara 3 – 5 menit atau bisa juga 10 menit tapi jarang, jadi wajar kalau peristiwa ini hanya bersifat local dan tidak merata, jenis awan berlapis lapis ini menjulang kearah vertical sampai dengan ketinggian 30.000 feet lebih, Jenis awan berlapis-lapis ini biasa berbentuk bunga kol dan disebut Awan Cumulo Nimbus (CB)

Bagaimana mengetahui adanya hujan es/angin puting beliung ?
Karena sifatnya yang lokal , luasannya kurang dari 10 km maupun durasinya yang sangat singat maka jika kita menggunakan model cuaca dengan grib 0,75 derajat (82,5 km), maka mempunyai perbandingan 1 : 8, kecuali kita mempunyai meso scal dengan domain yang sangat kecil kurang lebih 10 km, namun demikian fenomena tersebut sangat perlu diketahuia oleh kita yang ada diluar rumah, seperti :
1. lebih sering terjadi pada peralihan musim kemarau ke musim hujan
2. ebih sering terjadi pada siang atau sore hari, tapi terkadang pada malam hari
3. satu hari sebelumnya udara pada malam hari- pagi hari udaranya panas/pengap/sumu’
4. sekitar pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol
tahap berikutnya adalah awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap
5. perhatikan pepohonan disekitar tempat kita berdiri, apakah ada dahan atau ranting yang sudah bergoyang cepat, jika ada maka hujan dan angin kencang sudah akan datang
6. terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri
7. biasanya hujan pertama kali turun adalah hujan tiba-tiba dengan deras, apabila hujan nya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita berdiri
8. Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator tersebut dirasakan oleh kita maka ada kemungkinan hujan lebat+petir dan angin kencang akan terjadi
9. Jika 1 atau 3 hari berturut –turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun tidak.

Kepala Sub Bidang Informasi Metereologi, Badan Metereologi dan Geofisika (BMG), Ahmad Zakir ketika dikonfirmasi mengatakan turunnya buliran es yang menyerupai salju itu disebabkan gumpalan awan yang dekat dengan permukaan bumi. Bila gumpalan itu dekat permukaan bumi, jelasnya, akan menyebabkan gumpalan awan tersebut tidak lebur dengan baik sehingga turun ke bumi dalam keadaan masih berbentuk kondensasi (gumpalan). “Tapi peristiwa seperti ini hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu hujan berlangsung normal kembali,” katanya. Apakah kondisi ini terjadi di daerah lain? Zakir hanya mengatakan fenomena itu biasanya terjadi di daerah yang memiliki awan yang dekat dengan permukaan bumi. “Awan merupakan asal hujan. Di Jawa Barat bagian utara hal seperti ini juga sering terjadi. Beberapa daerah di Indonesia juga sering terjadi,” ucap Zakir. Lebih lanjut dikatakan Zakir, butiran es itu adalah semburan kondensasi air hujan yang menggumpal di atas permukaan bumi yang disebut awan gelap. “Biasanya seperti itu. Pertama kali keluar butir yang ada. Nah itu lima sampai 10 menit akan seperti itu. Pertama kali itu bukan hujan gerimis tapi semburan dari butir-butir hujan tapi ini tidak lama, katanya ..



semoga bermanfaat.....

Rabu, 22 Juni 2011

buku ajar BI kelas 3

A Mari, Membaca Nyaring




Bagaimana dengan liburan kenaikan kelas kamu? Sekarang, kamu mulai belajar kembali di sekolah. Di Kelas III ini, kamu harus belajar lebih giat lagi.
Masa liburan adalah masa yang menyenangkan, bukan? Kemana kamu berlibur? Mungkin ada yang ke luar kota. Mungkin ada yang berlibur di rumah saja. Setiap orang memiliki cara berlibur yang berbeda.
Berikut ini ada dua bacaan tentang tempat berlibur. Kamu akan berlatih membacanya dengan nyaring.
Dalam membaca nyaring, kamu harus memerhatikan lafal (kejelasan ucapan) dan intonasi (tinggi rendahnya suara). Misalnya, bunyi /e/ pada kata negeri harus diucapkan secara jelas. Jangan diucapkan negri. Bunyi /h/ pada kata ibadah harus jelas diucapkan, jangan diucapkan menjadi ibada.
Demikian pula tinggi rendahnya suara, harus jelas. Jika ada koma (,), kamu harus berhenti untuk menarik napas. Tanda titik (.) berarti kamu harus berhenti sebentar.
Bagaimana dengan lagu kalimat? Kalimat tanya diucapkan dengan nada menurun. Contoh: Di mana letak TMII? Kalimat seruan diucapkan dengan nada tinggi. Contoh: Wah, betapa indahnya Pantai Pangandaran! Kamu harus sering berlatih supaya mahir.

Ayo, Berlatih
1. Pilihlah salah satu bacaan berikut. Kemudian, bacalah dengan suara nyaring. Sambil membaca, pahami isinya. Perhatikan lafal, intonasi, dan lagu kalimat.

Bacaan 1

Berlibur Sambil Belajar
di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

TMII merupakan tempat wisata yang perlu dikunjungi. Selain bermain, banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh jika berkunjung ke TMII. Sejak diresmikan pada tahun 1975, banyak wisatawan yang datang ke sana.
TMII terletak di Kota Jakarta. TMII menampilkan kebudayaan dan kesenian dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, ia dinamakan “Taman Mini Indonesia” . TMII dibangun untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Jika kita berkunjung ke sana, kita akan merasa bangga. Betapa Indonesia ini kaya dengan berbagai budayanya.
Apa saja yang ada di TMII? Hampir setiap tahun, pada hari ulang tahunnya, di TMII selalu ada penambahan. Saat ini, terdapat berbagai museum dan taman di lingkungan TMII. Ada rumah adat dari berbagai daerah. Selain itu, ada bangunan lain, yaitu rumah ibadah, Tugu Api Pancasila, Padepokan Pencak Silat Indonesia, dan Teater Imax Keong Mas. Untuk rekreasi anak-anak, ada Istana Anak-Anak yang sangat indah bagaikan negeri impian.









Tugu Api Pancasila Istana Anak-anak

Banyak pula museum yang ada di TMII. Museum apa sajakah itu? Antara lain ada Museum Prangko, Museum Fauna, dan Museum Transportasi. Ada juga Museum Serangga dan Museum Telekomunikasi. Selain itu, ada juga Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Untuk menambah semarak TMII, dibangun pula taman-taman. Antara lain ada Taman Burung, Taman Kaktus, Taman Apotek Hidup, dan Taman Akuarium Air Tawar.
Diringkas dari Pahlawan Nasional, Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto, 1997
Sumber: Pahlawan Nasional Hj. Fatimah
Siti Hartinah Soeharto , 1997
Bacaan 2

Pangandaran, Pantai Indah
Pantai Pangandaran merupakan objek wisata pantai yang paling terkenal di Jawa Barat. Pantai ini terletak 92 kilometer arah selatan Kota Ciamis. Letaknya tepat di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran. Di pantai ini, kita dapat melihat terbitnya matahari. Di tempat yang sama, kita dapat pula melihat tenggelamnya matahari.
Pantai Pangandaran memiliki pantai yang berpasir putih. Pada musim liburan, pantai ini sangat ramai. Pengunjung datang dari berbagai tempat.
Pantai Pangandaran ini landai. Airnya pun jernih. Dengan demikian, orang yang ingin berenang akan merasa aman dan nyaman. Jika ingin berenang, ada ban atau pelampung yang disewakan. Selain itu, disediakan juga tim penyelamat wisata pantai.



Suasana di Pantai Pangandaran sangat nyaman. Pengunjung dapat melakukan beraneka ragam kegiatan. Misalnya, berenang, berperahu, memancing, berkeliling naik sepeda sewaan, dan mengunjungi taman laut. Di taman laut ini, terdapat ikan-ikan dan kehidupan laut yang mengagumkan.
Di Pantai Pangandaran juga sering diadakan acaraacara
internasional dan tradisional. Acara internasional yang selalu diadakan di Pantai Pangandaran adalah Festival Layang-Layang. Biasanya, acara ini diadakan setiap bulan Juni atau Juli. Acara tradisional yang biasa dilakukan di sana adalah Hajat Laut. Acara itu diadakan setiap bulan Muharam. Para nelayan melakukannya sebagai rasa terima kasih mereka kepada Tuhan.






Adakah kata-kata yang belum kamu pahami? Kamu dapat melihatnya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mulailah dari sekarang belajar menggunakan kamus bahasa Indonesia.


2. Ayo, belajar menilai bacaan temanmu.
a. Saat temanmu membaca, kamu harus memerhatikan dengan baik. Kamu akan belajar menilai temanmu.
b. Tulislah tanda √ di kotak seperti berikut. Salin kembali di buku tulismu.


Contoh
Nomor Nama Teman Kejelasan Ucapan Lagu Kalimat
Sesuai Tidak Sesuai Sesuai Tidak Sesuai
1. Rani √ √




3. Sudahkah kamu memahami isinya? Jika sudah, mari menjawab pertanyaan berikut.
Pertanyaan untuk Bacaan 1
a. Apa kepanjangan dari TMII?
b. Kapan TMII diresmikan?
c. Mengapa disebut “Taman Mini Indonesia”?
d. Sebutkan lima museum yang ada di TMII.
e. Taman apa saja yang membuat TMII makin indah?
Pertanyaan untuk Bacaan 2
a. Di mana letak Pantai Pangandaran? Berapa jauh jarak Pantai Pangandaran dari Kota Ciamis?
b. Uraikan keistimewaan Pantai Pangandaran.
c. Kegiatan apa saja yang dapat dilakukan di Pantai Pangandaran?
d. Sebutkan acara internasional yang diadakan di Pantai Pangandaran.
e. Apa yang dimaksud dengan acara Hajat Laut?

4. Mintalah temanmu untuk memeriksa jawabanmu. Setelah itu,
periksalah jawaban temanmu.
Ayo, Berlatih


Bacalah kalimat berikut dengan lafal dan intonasi yang tepat.
1. Temanku banyak. Anita orang Manado, Asep orang Sunda, dan Obi orang Dayak.
2. Maukah kamu ikut ke Candi Borobudur?
3. Oh, indahnya Danau Toba!
4. Aku pernah ke Ancol, Jakarta.
5. Kakek pulang ke Padang naik pesawat terbang.



Tugas untuk Kamu












Evaluasi

Buku ajar ini saya buat dengan menggunakan cara adopsi. Buku yang saya adopsi adalah buku Buku Paket Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas Kelas III karangan Edi warsidi dan Farika.
Menurut saya buku ajar ini sudah bagus. Buku ajar ini sudah mencakup penjelasan materi yang akan di ajarkan, yaitu tentang cara membaca yang baik dan benar dengan intonasi yang baik, serta membaca tanda baca yang benar.
Buku ajar ini juga dilengkapi bacaan untuk melatih siswa dalam mengaplikasikan materi membaca dengan intonasi yang baik, dan penggunaan tanda baca yang tepat.
Selain itu, juga dilengkapi dengan soal-soal yang berkaitan dengan bacaan yang telah disediakan. Juga dilengkapi dengan tugas rumah yang bertujuan agar siswa lebih memahami dan dapat menggunakan tanda baca dengan lebih tepat.

Minggu, 06 Maret 2011

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bhs Indonesia SD kelas 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Sekolah : SD dan MI
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : II/2
Alokasi Waktu : 1 x 20 menit

Standar Kompetensi
Mengungkapkan secara lisan beberapa informasi dengan mendeskripsikan benda dan bercerita.

Kompetensi Dasar
Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai ciri-cirinya dengan
menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang lain.

Indikator
Mampu menyebutkan ciri-ciri hewan tertentu yang ditunjukkan.

1. Tujuan Pembelajaran
• Siswa dapat mendeskripsikan binatang di sekitar sesuai ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang lain.
• Siswa dapat menceritakan kembali isi dongeng yang didengarnya.


2. Materi Pembelajaran
a. Dongeng
b. Ciri-ciri hewan
c. Deskripsi binatang


3. Metode Pembelajaran
a. Tanya jawab
b. Menemukan sendiri
c. Permainan

4. Langkah - Langkah Kegiatan Pembelajaran

a. Kegiatan Awal
1) Guru memberi salam.
2) Guru mengajak siswa menyanyi Kancil Anak Nakal.
3) Guru menyampaikan apersepsi.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b. Kegiatan Inti
1) Guru bertanya tentang binatang apa saja yang ada di lingkungan sekitar.
2) Guru menyuruh siswa mendeskripsikan tentang ciri-ciri binatang yang ada di lingkungan sekitar.
3) Guru dan siswa melakukan permainan mendeskripsikan ciri-ciri binatang berdasar gambar.
4) Siswa mendengarkan cerita Si Manis yang dibacakan guru.
5) Guru menyuruh siswa untuk menceritakan kembali cerita dengan bahasa sendiri.
6) Guru memberi pertanyaan mengenai cerita yang telah dibacakan.

c. Kegiatan Akhir
1) Siswa menerima pesan-pesan dari guru.
2) Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.

5. Sumber
• Terampil Berbahasa Indonesia untuk SD kelas 2

6. Penilaian
• Tertulis




Lampiran


1. Dongeng

Si Manis
Minggu pagi Rina berolahraga
Ia bersama ayah dan ibu
Setelah mengitari taman mereka beristirahat
Tiba-tiba Rina melihat seekor kucing tergeletak
Rina mendekati kucing itu
Kucing itu diam, ternyata pincang
Mungkin telah dipukul oleh seseorang
Dibawa pulang kucing itu
Dirawat dan diberi makan
Satu minggu kemudian sehat lagi
Sekaramg kucing itu tinggal di rumah Rina
Rina member nama si Manis



2. Pertanyaan

a. Siapa yang berolahraga?
b. Mengapa kucing itu diam?
c. Apa yang dilakukan Rina?
d. Dimana kucing itu sekarang?
e. Diberi nama apa kucing itu?


diganovenza@yahoo.com

Rabu, 12 Januari 2011

tugas METODE PENELITIAN

Pertanyaan

1.Ilmu pengetahuan dan penelitian memiliki keterkaitan yang kental dan sulit dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Pertanyaannnya adalah :
a.Apakah hubungan antara ilmu pengetahuan dan penelitian? Jelaskan?
b.Apakah kontribusi ilmu pengetahuan dan penelitian dalam perkembangan kehidupan manusia? Jelaskan !

2.Masalah dan variable penelitian merupakan suatu yang urgen dalam masalah penelitian dan penelitian tidak akan pernah terjadi jika kedua hal tersebut tidak ada. Pertanyaannya adalah :
a. Bagaimanakah cara menggali/menemukan masalah penelitian? Jelaskan!
b. Buatlah latar belakang masalah singkat, jika masalah penelitiannya adalah : apakah penerapan PAIKEM dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas 4 SDN 1 patrang ?
c. Buatlah definisi operasional variable penelitian pola 1 berkaitan dengan masalah penelitia pada soal poin b diatas

3.Setelah rumusan masalah dirumuskan secara jelas, perlu dikaji lagi melalui kajian pustaka. Pertanyaannya adalah :
a.Mengapa penelitian perlu ditunjang oleh kajian pustaka yang memadai? Jelaskan !
b.Apakah hubungan antara kajian pustaka dengan hipotesis penelitian? Jelaskan!
c.Hal – hal apa saja yang perlu dimuat dalam kajian pustaka ? Jelaskan !
4. Penelitian dapat dilaksanakan pada sasaran populasi atau sasaran sampel. Pertanyaannya adalah :
a.Mengapa penelitian boleh dilakukan secara sampel? Jelaskan!
b.Jika kondisi data heterogen dan berkelas, teknik pengambilan sampel apakah yang tepat untuk dilakukan? Jelaskan dan berikan argumentasinya!

5. Pelaksanaan penelitian dapat dilakukan dengan berbagai alternative design. Pertanyaannya adalah :
a.kapankah desain penelitian deskriptif dapat dianggap tepat untuk diterapkan
b.Buatlah satu rumusan masalah penelitian deskriptif dalam bidang pembelajaran pada salah satu bidang studi di SD!
c.Apakah kelebihan penelitian deskriptif? Jelaskan!













Jawaban

1.a) Ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Di satu sisi ilmu pengetahuan dapat menjadi dasar dan acuan dalam pelaksanaan penelitian sehingga penelitian yang dilaksanakan memiliki arah dan tujuan yang jelas. Ilmu pengetahuan juga dapat memberi arah dan dasar perumusan hipotesis penelitian yang akan diuji melalui pengumpulan data di lapangan. Di sini ilmu pengetahuan dapat berperan memberi jawaban sementara terhadap masalah penelitian hingga dapat terbukti melalui pengumpulan dan analisis data, apakah hasil pengumpulan dan analisis data mendukung atau menolaknya.
Di sisi lain hasil-hasil penelitian dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, meng-up-to-date-kan ilmu pengetahuan yang ada, serta memberi balikan terhadap relevansi ilmu pengetahuan terhadap kondisi yang terkini. Penelitian juga dapat memverifikasi ilmu pengetahuan yang ada, sehingga dapat menghilangkan keraguan akan kebenaran atau ada tidaknya suatu ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa penelitian dapat memverifikasikan, mendeskripsikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang ada.

b) Kontribusi ilmu pengetahuan dan penelitian dalam kehidupan manusia dapat dijelaskan sebagai berikut :
1)Mendeskripsikan, yaitu memberikan deskripsi atau menggambarkan secara jelas, cermat dan jujur tentang berbagai gejala atau fenomena tentang hal-hal yang dipermasalahkan. Dalam bidang pendidikan misalnya, ilmu pengetahuan dan penelitian memiliki tugas untuk menggambarkan faktor-faktor yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia selalu tertinggal dengan negara tetangga.
2)Menjelaskan, yaitu menjelaskan kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya suatu fenomena atau peristiwa secara sistematis dan hirarkhis sehingga dapat memuaskan seseorang yang ingin menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Contoh dalam bidang pendidikan adalah penjelasan hasil temuan yang berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkan anak berhasil dengan baik atau tidak berhasil dalam belajar.
3)Memprediksikan, yaitu membuat prediksi, estimasi atau ramalan serta proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa atau hal-hal atau gejala-gejala yang akan terjadi berdasarkan kondisi atau gejala-gejala yang ada seekarang. Hal demikian ini bermanfaat bagi manusia untuk melakukan antisipasi dalam menhadapi peristiwa atau hal-hal yang akan terjadi tersebut.
4)Penyusunan teori, disini ilmu pengetahuan memiliki tugas mencari, merumuskan atau menyusun teori, hukum, atau tata cara hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, sehingga dapat dijadikan acuan atau landasan dalam melakukan berbagai aktifitas, baik yang bersifat ilmiah, maupun yang bersifat praktis.
5)Pengembangan, yaitu mengembangkan kondisi atau keadaan, atau sistem yang ada sekarang agar tetap sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan manusia yang senantiasa berkembang sesuai dengan perubahan dunia yang serba cepat.
6)Pengawasan/pengendalian, mengawasi dan melakukan tindakan-tindakan guna mengendalikan gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa, sehingga perkembangannya tidak menyimpang dari nilai-nilai etika dan estetika serta tetap dalam kerangka kemaslkhatan kemanusiaan.

2.a) Masalah penelitian pada umumnya bersumber dari pengetahuan/pengalaman atau hasil pengamatan langsung seseorang terhadap suatu gejala tertentu. Dari hasil pengamatan tersebut seseorang melihat adanya kesenjangan antara yang seharusnya ada dengan kenyataan yang dilihatnya, sehingga terdorong untuk memecahkannya. Masalah dapat pula diperoleh dari membaca, baik membaca literatur, jurnal, maupun mass media. Dari membaca tersebut diperoleh berbagai informasi tentang berbagai hal, baik mengenai konsep-konsep, fakta-fakta dan bahkan ide-ide serta tanggapan-tanggapan dari para ahli tentang suatu kejadian atau suatu keadaan tertentu. Dengan informasi yang diperoleh tersebut, seseorang dapat melihat adanya kesenjangan yang muncul antara yang seharusnya ada dengan kenyataan yang sebenarnya, lalu ia tetarik untuk mengkajinya. Di samping itu, masalah penilitian juga dapat diperoleh dengan jalan ditunjukkan oleh orang lain yang lebih memahami atau yang lebih ahli dalam bidang tertentu.

b) Model atau metode pembelajaran yang ada saat ini sangat bermacam-macam. Namun tidak semua model dapat berjalan maksimal sehingga pencapaian tujuan pembelajaran sedikit banyak tersendat. Penerapan model pembelajaran yang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran juga tergantung pada materi yang di sampaikan.
Salah satu model pembelajaran yang sering digunaakan saat ini oleh guru yaitu model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan atau di singkat PAIKEM. Untuk itu penulis ingin mengetahui apakah model pembelajaran PAIKEM mampu meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas 4 di SDN 1 Patrang.
c) Definisi operasional variabel penelitian Pola 1
PAIKEM adalah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
Hasil belajar IPS adalah hasil yang dicapai setelah melakukan proses pembelajaran IPS

3.a) Kajian pustaka sangat menunjang dalam pelaksanaan penelitian. Manfaat pengkajian pustaka dalam pelaksanaan penelitian antara lain :
Untuk mendapatkan verifikasi secara teoritis, bahwa masalah yang kita teliti tersebut memiliki landasn ilmiah untuk di teliti.
Agar dapat lebih memfokuskan permasalahan penelitian yang akan kita laksanakan.
Agar kita bisa mendapatkan pendekatan penelitian secara tepat.
Untuk dapat menyusun kerangka teori sebagai landasan dalam pengembangan hipotesis penelitian secara tepat.
Untuk dapat merumuskan asumsi dan keterbatasan penelitian yang akan dilakukan secara tepat.
Untuk dapat memperoleh acuan dalam penyusunan instrumen pengumpulan data secara tepat.
Agar kita dapat memilih dan menentukan teknik analisis data secara tepat.

b) Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara atas permasalahan penelitian yang akan di pecahkan. Jawaban atas permasalahan penelitian tersebut dapat berupa kebenaran teoritis yang dicari melalui pengkajian kepustakaan. Berkaitan dengan hal tersebut, hipotesis juga di anggap sebagai “ suatu rangkuman atau simpulan teoritis yang diperoleh dari penelaahan kepustakaan”. Dengan demikian dapat disimpulkan, jika penelaahan kepustakaannya tepat, maka hipotesis yang dirumuskan juga tepat, begitu juga sebaliknya.

c) Adapun hal-hal yang dimuat dalam kajian pustaka antara lain
Judul jurnal/buku
Jenis
Topic
Penulis
Penerbit/tahun
Halaman
Jenis penelitian
Waktu penelitian

4.a) Penggunaan data sampel dalam penelitian biasanya dilakukan dengan alasan sebagai berikut :
Penelitian secara individual atau satu persatu terhadap seluruh anggota populasi tidak mungkin dilaksanakan.
Subyek penelitian bersifat homogin
Dampak destruktif terhadap obyek yang diteliti
Menghemat waktu, tenaga, dan biaya penelitian

b) Jika kondisi data heterogin dan berkelas, maka teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampe berstrata atau bertingkat (stratified sampling). Misalnya strata kelas, strata usia, strata ekonomi, strata pendidikan, dan lain sebagainya. Dalam kasus yang demikian itu, apabila peneliti berkeyakinan bahwa ada perbedaan ciri atau karakteristik antara strata-strata yang ada, dan diperkirakan dapat mempengaruhi variabel penelitian, maka pengambilan sampelnya tidak boleh dilaksanakan secara random, karena setiap strata yang ada harus diwakili setiap sampel.

5.a) Penelitian deskriptif cocok untuk penelitian awal atau penelitian dasar, dalam mengungkap data permulaan, yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan dalam melakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian deskriptif sangat cocok untuk dilakukan dalam rangka mengungkap suatu keadaan/situasi tertentu sebagaimana adanya secara obyektif, manakala belum diketahui data awal dari suatu keadaan yang akan diteliti.

b) Rumusan masalah penelitian deskriptif
“Masalah-masalah apakah yang dihadapi sisiwa kelas VI MI AL MUJAHIDI dalam menyelesaikan soal-soal ceritera?”

c) Adapun kelebihan penelitian deskriptif antara lain :
Penelitian deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan suatu keadaan, kondisi atau gejala secara obyektif, sebagaimana adanya pada saat penelitian ini dilakukan.
Penelitian deskriptif tidak menghubungkan dengan variabel lain.
Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji suaru hipotesis penelitian, karena penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu kondisi, keadaan atau gejala sebagaimana adanya dan tidak menghubungkan dengan variabel lain, maka penelitian deskriptif tidak membutuhkan hipotesis penelitian.
Penelitian deskriptif tidak membutuhkan pengontrolan terhadap suatu perlakuan (treatment).
Tidak memerlukan teknik analisis data statistik inferensial yang rumit, melainkan hanya cukup dengan analisis data statistik deskriptif dengan pengolahan data yang sederhana.

Selasa, 11 Januari 2011

Tugas Pembelajaran Kelas Rangkap

Pertanyaan :
Berikan penjelasan selengkap mungkin terhadap situasi-situasi berikut :
1. Yang sesuai dengan kondisi di daerah anda, kira-kira model PKR (pola pembelajaran) yang mana yang memungkinkan untuk di laksanakan
2. Media pembelajaran macam apa yang paling memungkinkan untuk di gunakan bila di kaitkan dengan kondisi sekolah anda
3. Kegiatan siswa yang bagaimana yang mungkin anda anggap pling sesuai bila melihat potensi (kemamapuan siswa) yang ada di kelas anda.
4. Proses pembelajaran yang seperti apa yang akan anda harapkan agar dapat memberikan hasil yang optimal
















Jawaban :
1. Sesuai dengan kondisi di daerah saya, Model Pembelajaran Kelas Rangkap yang tepat adalah pola pembelajaran pertama, dimana seorang guru menghadapi dua ruangan untuk dua tingkatan kelas yang berbeda. Ini karena jumlah siswa dalam satu kelas tidak sedikit, mencapai belasan siswa, bahkan ada yang sampai lebih dari 20 siswa. Sehingga jika diterapkan pada model atau pola yang ke dua atau ke tiga saya rasa guru akan lebih kesulitan. Karena guru mengajar dalam tiga kelas sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ini jelas membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan kekreatifan yang ekstra.
Dalam pola pembelajaran ini guru menggunakan alat bantu atau media berupa audio, karena media ini di pandang cukup murah, mudah dan praktis. Di sisi lain media audio juga bisa mengatasi lemahnya budaya membaca. Biasanya anak-anak cenderung lebih cepat menangkap pelajaran dengan cara mendengarkan secara langsung. Anak juga merasa terhibur dan tidak bosan dalam proses belajar di kelas.


2. Dalam kondisi daerah saya media yang cocok digunakan yaitu media audio/ audio visual karena media ini memiliki komponen bahasa dan musik yang dapat di kombinasikan untuk menguatkan isi pesan yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Media ini merupakan bahan ajaran yang ekonomis, menyenagakan dan mudah di siapkan untuk di gunakan oleh siswa. Dengan menggunakan media audio/ audio visual siswa bisa lebih berkonsentrasi dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru meskipun guru mengajar dua kelas sekaligus. Di samping itu media ini tidak hanya cocok dalam pesan aspek kognitif, namun juga sesuai untuk aspek afektif dan spikomotor. Di sisi lain, budaya membaca pada masyarakat kita termasuk para siswa masih lemah, masyarakat lebih dominan dengan budaya mendengarkan dan menonton.
3. Menurut saya kegiatan yang saya anggap sesuai bila melihat potensi (kemampuan siswa) adalah dengan melihat kegiatan siswa yang aktif, mandiri, kreatif, menyenangkan/mengasyikkan, dinamis, dan bertumpu pada siswa. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan seperti mendengar dan berbicara, melihat dan membaca, bahkan melakukan peragaan atau melakukan suatu aktifitas.


4. Proses pembelajaran yang mengacu pada PAIKEM, yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sehingga siswa menjadi lebih semangat dalam kegiatan belajar yang dilakukannya. Adapun pembelajaran PAIKEM tersebut maksudnya:
a) Pembelajaran Aktif :
• Proses aktif membangun makna / pemahaman baik dari informasi maupun pengalaman peserta didik.
• Guru dituntut menciptakan suasana yang membangkitkan peserta didik terlibat aktif menemukan, mengolah, dan membentuk pengetahuan atau keterampilan baru.
b) Pembelajaran Inovatif :
• Proses pembelajaran yang memunculkan ide-ide baru (inovasi) positif yang lebih baik.
c) Pembelajaran Kreatif:
• Pembelajaran yang megembangkan kreatifitas peserta didik, potensi belajar; rasa ingin tahu / penasaran, penuh imajinasi
• Guru dituntut menciptakan kegiatan pembelajaran yang beragam yang mampu membangkitkan potensi belajar dan imajinasi.
d) Pembelajaran Efektif:
• Pembelajaran yang menjamin terpenuhinya tujuan pembelajaran dengan tercapainya kompetensi dasar (KD) setelah proses pembelajaran.
e) Pembelajaran Menyenangkan:
• Suasana pemebelajaran berlangsung menyenangkan akibat suasana kejiwaan peserta didik bebas dari beban / tekanan. Suasana ini merupakan reward yang akan menimbulkan keterlibatan peserta didik belajar secara aktif.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran PAIKEM antara lain :
1) Faktor Internal
a. Bakat, Kecerdasan (intelektual, emosional, dan spiritual)
b. Minat, motivasi, sikap
c. Latar belakang ekonomi, sosial budaya
2) Faktor Eksternal
a. Tujuan pembelajaran, Materi
b. Strategi, metode dan media pembelajaran
c. Pengorganisasian kelas, penguatan , iklim sosial dalam kelas
d. Waktu yg tersedia, sistem & teknik evaluasi
e. Sikap guru dan upaya menangani kesulitan belajar siswa

Teori Belajar Bahasa (resum Kapita Selekta)

Bacaan 2
BAB 1
TEORI BELAJAR BAHASA

Pengertian teori menurut Kerlinger yang dikutip Sapani (1998) adalah suatu himpunan pengertian atau konsep yang saling berkaitan yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala dengan jalan menetapkan hubungan yang ada diantara variabel – variabel dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala – gejala tersebut.
Sedangkan pengertian teori belajar bahasa adalah teori mengenai bagaimana manusia mempelajari bahasa, dari tidak bisa berkomunikasi antar sesame manusia dengan medium bahasa menjadi berkomunikasi dengan baik. Kegunaan teori, termasuk didalamnya teori belajar bahasa yaitu
a) Menyempurnakan suatu praktik
b) Memperjelas sesuatu,membuat orang mengerti sesuatu
c) Dapat merangsang pengetahuan baru dengan jalan memberikan bimbingan ke arah penyelidikan selanjutnya.

Ada beberapa teori belajar yang akan dikemukakan di sini yaitu
A. Teori Behaviorisme
Menurut teori ini, manusia adalah organisme yang dapat memberikan respon baik oleh karena adanya stimulus atau rangsangan yang nampak atau tidak. Respon tersebut diusahakan terus karena ada penguatan.
Dalam pelaksanaan di kelas metode audiolingual yang juga dipengaruhi strukturalisme menurut Moulton memiliki lima karakteristik kunci yang perlu dipertimbangkan jika mengajarkan bahasa yaitu
a) Bahasa itu ujaran bukan tulisan
b) Bahasa itu seperangkat kebiasaan
c) Ajarkanlah bahasa bukan tentang bahasanya
d) Bahasa adalah sebagaimana yang dituturkan oleh penutur asli bukan seperti yang dipikirkan orang bagaimana harusnya mereka berbicara
e) Bahasa itu berbeda – beda.
Beberapa prinsip behavioristik yang dapat dimanfaatkan dalam perencanaan dan pembelajaran bahasa Indonesia menurut Aminnudin (1996) sebagai berikut.
1) Dalam merencanakan program pengajaran guru harus secara jelas memperhitungkan hubungan antara materi pelajaran dengan isi pelajaran , bentuk latihan, bentuk keterampilan yang diharapkan, dan bentuk perubahan tingkah laku yang tampak secara konkret.
2) Perencanaan pengajaran harus ditata dalam unit – unit dalam urutan tertentu. Urutan itu harus menggambarkan urutan sederhana ke kompleks, mudah ke sukar, dan konkret ke abstrak.

B. Teori Mentalisme
Teori mentalisme merupakan kebalikan dari teori behaviorisme dimana teori ini lebih cenderung pada pembahasan yang bersifat batiniah. Menurut N. Chomsky (dalam sumardi, 1992:97) bahwa pemerolehan bahasa tidak dapat dicapai melalui pembentukan kebiasaan karena bahasa terlalu sulit untuk dipelajari dengan cara semacam itu apalagi dalam waktu yang singkat.
Sementara itu ada beberapa pendapat kaum mentalis tentang pembelajaran dan pemerolehan bahasa yang dikutip oleh Sapani (1998:14):
a) Bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia
b) Perilaku bahasa adalah suatu yang diturunkan
c) Pemerolehan bahasa berlangsung secara alami
d) Pola perkembangan bahasa sama pada berbagai macam bahasa dan budaya
e) Setiap anak sudah dibekali dengan piranti penguasaan bahasa sebagai bawaan dari lahir
f) Aliran mentalis tidak setuju menyamakan proses belajar pada manusia dengan yang terjadi pada binatang
g) Belajar bahasa tidak sekedar latihan – l;atihan mekanistis melainkan lebih kompleks

C. Teori kognitivisme
Teori ini beranggapan bahwa belajar merupakan penghubung antara pemahaman yang satu dengan yang lain untuk menghasilkan pemahaman tentang materi baik berupa asimilasi maupun akomodasi. Sehingga pembelajaran bisa berjalan utuh dan bermakna.

D. Teori Konstruktivisme
Menurut pandangan teori ini (dalam Mulyasa, 2005:240) dalam kegiatan belajar mengajar siswa harus aktif selama pembelajaran berlangsung; proses aktif ini adalah proses membuat sesuatu masuk akal,pembelajaran tidak terjadi melalui transmisi tetapi melalui interpretasi; interpretasi selalu dipengaruhi oleh schemata( pengetahuan sebelumnya);interpretasi juga dibantu oleh metode instruksi yang memungkinkan negoisasi pikiran; tanya jawab.
Implikasi dalam pandangan teori ini dalam pelajaran bahasa Indonesia menurut Aminuddin (1996) yaitu.
1) Perencanaan pengajaran harus dilandai pemahaman karakteristik proses berpikir siswa dalam mengolah, menghayati dan mengonseptualisasikan isi pembelajarannya.
2) Proses pembelajaran bahasa Indonesia bukan hanya ditujukan pada upaya pengembangan kemampuan berkomunikasi semata.
3) Pengorganisasian materi dan kegiatan pembelajaran, idealnya selain member peluang terjadinya pembelajaran secara individual juga harus memberi peluangterjadinya proses pembelajaran secara berkelompok
4) Materi pelajaran yang secara formal disajikan di sekolah bukan merupakan satu –satunya sumber isi pembelajaran.

E. Teori Fungsionalisme
Pandangan fungsionalisme dalam kajian linguistic sering disebut tata bahasa sistemik,relasional, maupun tata bahasa stratifikasi. Beberapa hal penting dari teori ini yang membedakan dengan teori lain yaitu :
1) Bahasa bukan sebagai gejala psikologis tetapi fakta sosial yang secara implicit mengemban penghayatan kehidupan sosial.
2) Bahasa bukan terwujud sebagai kalimat tetapi sebagai teks atau wacana
3) Sebagai teks, bahasa memiliki tiga tataran fungsi yang berhubungan secara sistematis yaitu fungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual.
4) Siswa belajar berbahasa secara serempak juga disertai kegiatan mengenal, menghayati dan memahami kenyataan lain di luar fakta kebahasaannya.
5) Pemahaman bahasa bermula dari pemahaman penggunaannya
6) Belajar bahasa hakikatnya adalah belajar menggunakan bahasa sesuai dengan system dan kaidah sosialnya.

F. Teori Humanisme
Prinsip pandangan ini menganggap siswa sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Mereka memiliki minat, motivasi, pola piker dan gaya belajar yang berbeda. Sehingga pandangan ini lebih mengutamakan peranan siswa dan berorientasi pada kebutuhan siswa. Prinsip – prinsip humanism menurut Aminuddin (1994:2) yaitu.
1. Manusia secara fitrah memiliki bekal yang sama dalam upaya memahami sesuatu
2. Perilaku manusia dilandasi motif dan minat tertentu
3. Manusia selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan



Bacaan 4

BAB II
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA

A. Pendekatan Whole Language
Whole language adalah [andangan tentang hakikat belajar dan bagaimana mendorong proses tersebut agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien sehingga mencapai hasil yang optimal. Menurut Goodman(1986:72-73) WL menggunakan seperangkat asumsi dari empat landasan daar yaitu. Teori belajar, teori kebahasaan(asumsi kebahasaan), asumsi tentang pengajaran dan peranan guru,serta pandangan kurikulum pengajaran bahasa.

B. Pendekatan Terpadu
Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pengajaran dengan menyajikan bahan – bahan pelajaran secara terpadu yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri/terpisah – pisah. Adapun cirri – cirri pendekatan ini yaitu
1. Berpusat pada siswa
2. Memberikan pengalaman langsung pada anak
3. Pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas
4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran
5. Bersifat luwes
6. Hasil pembeljaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
C. Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Ciri pendekatan ini menurut Finoccaro dan Brumfit (dalam Sumardi,1992:100) yaitu
1. Kebermaknaan lebih penting disbanding struktur dan bentuk bahasa
2. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi bukan yang lain
3. Tujuan yang ingin dicapai yaitu kemampuan menggunakan system bahasa secara efektif dan betul
4. Kelancaran menggunakan bahasa yang dapat diterima menjadi tujuan utama yang ingin dicapai
5. Materi pelajaran disusun dan ditahapkan melalui isi, fungsi atau makna yang menarik.
6. Variasi kebahasaan merupakan konsep sentral dalam materi pelajaran dan metodologi
7. Penerjemahan dapat dilakukan bila dibutuhkan
8. Pencampuran kode bahasa ibu dapat dilakukan bila diperlukan
9. Dialog digunakan pada fungsi-fungsi komunikatifdan biasanya tidak dihafalkan
10. Bukan ucapan persis seperti penutur asli tetapi ucapan yang dapat dipahami
11. Usaha untuk berkomunikasi dianjurkan sejak tingkat permulaan
12. Bahasa yang digunakan seringkali melalui trial and error
13. Guru mendorong siswa dengan cara apapun yang mendorong siswa menggunakan bahasa yang dipelajari.
14. Siswa diharapkan mampu berkomunikasi melalui kelompok baik secara lansung maupun melalui tulisan.

Bacaan 6
BAB III
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SDMENGGUNAKAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

A. Lingkungan sebagai sumber belajar BI di SD
Pembelajaran berbasis lingkungan yaitu sumber belajar yang tidak dirncang khusus tetapi dapt dimanfaatkan untuk member kemudahan dalam belajar mengajar, biasanya sumber belajar yang ada di sekeliling kita. Lingkungan sebagai sumber belajar dapat dibedakan menjadi lingkungan alam(sungai dll),sosial(keluarga,desa,dll),dan budaya(candi,adat istiadat). Sementara itu alasan mengapa lingkungan dipilih sebagi sumber belajar di yaitu
 Lingkungan merupakan sesuatu yang paling dekat dengan dunia siswa, sudah dikenal dalam kehidupannya sehari – hari
 Lingkungan merupakan sumber belajar yang sangat kaya
 Lingkungan merupakan tempat nyata kehidupan anak sehingga diharapkan akan relevan dengan kehidupannya kelak.

B. Memilih Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar secaraumum sebagai berikut.
a) Sumber belajar harus ekonomis
b) Sumber belajar harus praktis dan sederhana
c) Sumber belajar harus mudah diperoleh
d) Sumber belajar harus fleksibel

C. Tujuan Penggunaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar BI di SD
Arikunto (1990:4) mengungkapkan bahwa tujuan lingkungan dijadikan sumber belajar antara lain/;
1. Untuk mengefektifkan pembelajaran
2. Untuk membuat pembelajaran menjadi relevan baik dengan kebutuhan siswa, perkembangan anak,maupun dengan apa yang menarik minat anak
3. Agar pembelajaran menjadi efisien dan murah.


Bacaan 10
BAB V
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD MENGGUNAKAN PERMAINAN

A. Pengertian Bermain
Bermain mengacu pada beberapa teori bermain yang dikemukakan para ahli seperti berikut ini.
1) Teori surplus energy. Teori ini menyatakan bahwa bermain merupakan penyaluran energi yang berlebihan.
2) Teori relaksasi. Teori ini menyatakan bahwabermain merupakan cara seseorang untuk menjadi lebih santai dan segar setelah tersalurnya energi.
3) Teori preparasi atau insting menyatakan bahwa bermain merupakan suatu perilaku instingtif yang cenderung berdasarkan pada perkembangan anak dalam kehidupannya.
4) Teori evolusi kebudayaan
5) Teori pertumbuhan dan perkembangan menyatakan bahwa bermain merupakan salah satu cara mengembangkan kemampuan anak
6) Teori penyaluran emosi menyatakan bahwa bermain merupakan ekspresi simbolik dari suatu harapan; bermain merupakan upaya pengendalian pengalamn – pengalaman yang menegangkan.
7) Teori kognitif menyatakan bahwa bermain merupakan suatu upaya asimilasi

B. Karakteristik Kegiatan Bermain
Beberapa karakteristik kegiatan bermain sebagai berikut.
1) Bermain dilakukan karena kesukarelaan
2) Bermain merupakankegiatan untuk dinikmati
3) Kegiatan bermain sudah menyenangkan meskipun tanpa iming – iming
4) Dalam bermain aktifitas lebih penting daripada tujuan
5) Bermainm menuntut partisipasi aktif, secara fisik atau mental
6) Bermain itu bebas bahkan tidak harus selaras dengan kenyataan
7) Dalam bermain individu bertingksh laku secara spontan
8) Makna dan kesenangan bermain sepenuhnya ditentukan si pelaku.

C. Fungsi Bermain Dalam Pendidikan
Fungsi bermain diuraikan sebagai berikut.
a) Pengembangan Kognitif Bermain dan pengembangan kognitif erat kaitannya dalam permainan simbolik. Dalam bermain simbolik akan member kesempatan siswa untuk berfikir divergen dan belajar memecahkan masalah.
b) Pengembangan sosial. Bermain adalah model yang baik untuk mengembangkan sosial anak karena akan mendorong anak berinteraksi sosial, mengatasi dan menentukan konflik,memecahkan masalah dll
c) Pengembangan Emosional. Bermain adalah media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan seperti gembira, sedih dll.
d) Pengembangan Fisik. Bermain memberikan kesempatan untuk mengembangkan gerakan halus dan kasar.
e) Pengembangan bahasa. Melalui bermain siswa belajar bagaimana menggunakan bahasa secara nyata dan kontekstual.

D. Macam – Macam Permainan Bahasa
Permainan yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu.
a) Bisik berantai
b) Kim Lihat
c) Aku seorang Detektif
d) Bartanya dan menerka
e) Baca Lakukan
f) Bermain telepon
g) Meloncat bulatan
h) Perjalanan dengan denah
i) Mengarang gotongroyong
j) Stabile kalimat
k) Kata dari wacana
l) Cerita berantai
m) Siap, Laksanakan